News : Tunjangan Profesor Bersyarat

Kompas, halaman 11

Guru besar diwajibkan memublikasikan minimal tiga karya ilmiah di jurnal internasional dalam kurun tiga tahun. Apabila tidak dilakukan, pemerintah akan menghentikan sementara tunjangan kehormatan untuk mereka. Profesor didorong untuk meneliti dan berkarya.

Hal itu ditegaskanMenteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi(Menristek dan Dikti) Mohammad Nasir di sela-sela Rapat Kerja Nasional Kemristek dan Dikti di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (30/1). Nasir mengatakan, ia telah menandatangani Peraturan Menristek dan Dikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.

Dalam Pasal 8 peraturan itu menyatakan, untuk bisa memperoleh tunjangan kehormatan, seorang profesor di perguruan tinggi harus memenuhi satu di antara sejumlah syarat. Hal itu antara lain menghasilkan paling sedikit tiga karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional dalam kurun tiga tahun. Persyaratan lainnya adalah menghasilkan paling sedikit satu karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional bereputasi, menghasilkan paten, atau menghasilkan karya seni atau desain monumental dalam kurun tiga tahun.

Sementara itu, dosen yang menduduki jabatan rektor kepala juga harus memenuhi salah satu di antaranya beberapa syarat agar bisa menerima tunjangan profesi. Nasir mengatakan, evaluasi atas tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan profesor akan dilakukan setiap tiga tahun sekali.

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Rochmat Wahab, mendukung upaya Kemristek dan Dikti mendorong publikasi ilmiah, terutama di kalangan profesor atau guru besar. Ia menambahkan, publikasi di jurnal internasional penting untuk mengenalkan karya ilmiah para dosen Indonesia kepada kalangan internasional sehingga berpotensi mewujudkan kerja sama riset lebih luas.

Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Bambang Supriyadi mengatakan, aturan soal tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan profesor itu juga berlaku untuk PTS. Ia menambahkan, selama ini, sebagian dosen PTS di DIY cukup aktif meneliti dan memublikasikan karya ilmiah. Dosen yang aktif meneliti itu, imbuhnya, biasanya tidak menduduki jabatan struktural, seperti rektor atau wakil rektor.

About the author: Muhadjier